Minggu, 16 September 2012

"Putu Wijaya dan karyanya"


                                     “DOKTER”
                                                                      (Putu Wijaya)
Oleh    : Polikarpus Roris W. (XII IPA / 22)

1.     Tema                          : Ketidakpercayaan
            Setting tempat            : Puskesmas, di rumah
            Setting waktu             : Malam dan pagi
Alur                            : Maju
Tokoh                         : Dokter            => berjiwa besar
                                                : Dukun           => memaksa,terburu-buru
                                                : Keluarga        => suka memaksa,polos,bodoh
Pesan                          : Hargailah orang lain
                                                : Jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal gaib

       2.  Tema menurut bahasa Putu Wijaya:
Mungkin mereka juga senang karena saya tidak mengabaikan perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kata sayalah yang paling benar.

        3. Latar                          : Puskesmas,rumah
            Suasana                      : Gaduh, bingung, ricuh
            Sosial budaya             : Ekonomi masih rendah, merupakan suku pedalaman
                                                : Pendidikan yang kurang / terbatas, percaya hal-hal gaib

        4. Pengenalan
(Paragraph II)
“Kata dokter john manangsang yang melintang dibelantara boven digul masyarakat pedalaman cenderung menunda kedokter,karena konsultasi kedukun.”
Klimaks (paragraph 14)
Saya buktikan tidak ada ular diperutnya.dia mati karena kurang gizi dan salah menenggak ramuan dukun.
Penyelesaian (paragraph 45)
Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun.puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke puskesmas.

        5. Tokoh utama                         : Dokter
            Wataknya                              : Berjiwa besar,cerdas,berwibawa
            Bukti                            
“Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kata sayalah yang paling benar.

        6. Sudut pandang                      : Orang ke III sebagai pelaku utama
        7. Pesan                         
Ø  Kita harus menghargai orang walaupun orang itu lebih rendah daripada kita
Ø  Jangan percaya pada gal-hal gaib,tetapi percaya pada Tuhan.


BIOGRAFI
Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Putu menulis sejak SMP. Tulisan pertamanya sebuah cerita pendek berjudul "Etsa" dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Pertama kali main drama ketika di SMA, memainkan drama sendiri dan menyutradarai dengan kelompok yang didirikannya sendiri di Yogyakarta. Ikut Bengkel Teater 1967-1969. Kemudian bergabung dengan Teater Kecil di Jakarta. Sempat main satu kali dalam pementasan Teater Populer. Selanjutnya dengan Teater Mandiri yang didirikan pada tahun 1971, dengan konsep "Bertolak dari Yang Ada. [2]
Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron.
Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
















Balikui
Cerpen: Putu Wijaya

Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 11/03/2002Di hadapan sekitar tiga ratus mahasiswa di Hunter College,New York, Wayan harus bercerita tentang Bali. ClaudiaOrenstein, pengajar teater Asia di perguruan tinggi negeri itu,meminta Wayan tampil sekitar satu jam. "Boleh ngapain saja.Menari, menyanyi, menjelaskan sesuatu, membaca cerpen, yah apa sajalah, asal Bali," kata Claudia. Wayan jadi ngeper.Pertama bahasa Inggrisnya berantakan.Membaca ia bolehlah, tetapi berbicara di depan orang-orang yang berbahasa Inggris, ia bisa mati kutu. Di samping itu, apa yang mesti diceritakannya tentang Bali. Dalam daftar buku wajib para mahasiswa tercantum buku yang sudah kompletmenjelaskan Bali. Di antaranya buku Kaja-Kelod yang ditulisoleh Doktor I Made Bandem dan Doktor Fritz de Boer.
Beberapa malam Wayan nyap-nyap. Ia mencobamembongkar-bongkar slide yang dibawanya. Itu bisa mengisi waktu sekitar seperempat jam. Kemudian mungkin ia akanmemutar video pertunjukan sendratari Ramayana, kecakdance atau legong keraton.Selanjutnya ia dapat menunjukkan beberapa gerakan tariBali. Sisanya menjawab pertanyaan kalau ada. Tapi begituberdiri di podium, melihat ratusan pasang mata menatapnya,ia jadi kelengar. Tidak hanya mata Amerika, juga ada mataHong Kong, Jepang, Thailand, Filipina, bahkan terselip satudua mata orang Indonesia. Rencana Wayan buyar. Semuanyaberantakan."Saya minta maaf karena bahasa Inggris saya, bahasa hancurlebur. Tetapi barangkali karena itu saya terpilih berbicara didepan Anda semua. Karena paling tidak saya bisa menjaditontonan konyol," kata Wayan membuka kelas.

Para mahasiswa langsung tertawa berderai. Wayan terkejut.Ia tambah kecut hati, karena pengakuan jujurnyaditertawakan. "Waduh saya jadi grogi, maaf mungkin sayaharus permisi ke belakang dulu," kata Wayan sambil menolehkepada Claudia yang ikut duduk di deretan mahasiswa,menembakkan kamera untuk dokumentasi. Para mahasiswatertawa lebih keras.Wayan jadi bingung. Akhirnya ia nekat. "Tapi kalau saya kebelakang, saya takut Anda ikut semua. Jadi lebih baik sayatahan saja, mudah-mudahan saja tidak kebablasan di sini didepan Anda." Para mahasiswa semakin seru ketawa. "Maaf saya tidak melucu." Beberapa mahasiswa bertepuk tangangembira. "Lho sungguh. Sebagai orang Bali, saya tidak pintarberbicara, apalagi dalam bahasa Inggris. Terus-terang,sebenarnya tak ada yang perlu saya bicarakan kepada Anda.Anda sudah tahu semuanya.Coba apa yang tidak Anda ketahui? Tidak ada. Justru yangtidak saya ketahui, banyak sekali. Misalnya, lho kenapa Andasemua harus mendengarkan cerita orang yang tidak tahu seperti saya. Sebetulnya saya yang lebih pantasmendengarkan cerita Anda. Orang Bali yang harus banyakbelajar dari orang Amerika." "Lihat saja dari kepala sampai kekaki, saya sudah mencoba jadi orang Amerika. Saya memakaicelana jins buatan Amerika. Sweater saya ini juga saya beli diloakan di sini. Dan tadi saya baru makan Burger King.Apalagi saya sekarang mencoba bicara dalam bahasa Inggris yang membuat saya sudah stres selama satu minggu. Tapisaya kok jadi tambah Balikui rasanya. Lucu kan?" Wayantertawa, menyangka apa yang dikatakannya lucu. Tapi tak ada mahasiswa yang ikut tertawa. Wayan jadiberkeringat. "Ya, terus terang saya sudah habis-habisanmencoba menjadi orang Amerika. Tetapi sudah dua bulan disini, makan, berpakaian, berbicara dan hidup seperti orangNew York, tetap saja saya tidak pernah bisa berhasil jadiorang Amerika. Ternyata sekali saya lahir sebagai orang Bali, saya sudah dikutuk jadi orang Bali. Apa pun yang saya cobalakukan, berbohong atau menipu sekali pun, tetap sajamasih bernapas, berjalan, berpikir, bekerja, tidur, pacaran,bahkan berak sekalipun, saya tetap berak orang Bali." Paramahasiswa tertawa. Wayan kembali heran."Jadi bukan pakaian, bukan makanan, bukan juga pikiran yang membuat saya menjadi orang Bali, tapi takdir. Dansaya tidak bisa memilih takdir. Saya dipilihkan. Saya pernahmencoba mengusut apa saja takdir saya itu yangmenjadikan saya berbeda dengan Anda semua orangAmerika, termasuk juga Anda yang berasal dari belahandunia yang lain. Tapi saya tidak berhasil menemukan jawabannya. Saya hanya punya contoh. Waktu sayamendarat pertama kali di Amerika, bahkan datang pertamakali di New York sini, selama satu minggu, bahkan sampaisatu bulan saya sulit membedakan kalian satu sama lain.Nampaknya kalian orang Amerika sama semua. Padahalrambut, tinggi, potongan badan, kelakuan, pakaian, namaserta usia dan watak kan lain-lain. Tapi sebaliknya jugaterjadi pada turis Amerika yang datang ke Bali. Selama satuminggu atau sebulan, semua orang Bali buat mereka sama.Wayan semuanya. Jadi kalau begitu, pertanyannya adalah: apa yang samapada semua orang Bali?" Beberapa orang mahasiswabergerak, siap menulis di atas catatannya. "Maaf janganditulis, jangan percaya pada saya, siapa tahu saya bohongatau menipu kalian," kata Wayan. Para mahasiswa tertawacekakan.Wayan kembali berkeringat. "Orang bilang, orang Bali itubalikui," lanjut Wayan, "artinya lugu, polos begitu. Dalambahasa Inggrisnya apa ya? Apa ya Claudia?" Claudiamengucapkan satu kata. Tapi Wayan tak mendengarnya.Namun para mahasiswa mencatat. "Banyak orang mencobabelajar kesenian Bali, tari Bali, gamelan Bali dan sebagainya,dengan meniru pakaian, langkah, gerak dan agemnya," kata

Wayan menyambung, "tetapi meskipun secara matematikasudah persis, benar begitu, selalu saja hasilnya kaku. Belajargamelan dan tari Jawa juga sama saja begitu. Tidak pernahpas. Kadang berlebih-lebihan, kadangkala kurang.Masalahnya, saya kira karena mereka mencoba mendekatidari bentuknya. Ya tidak akan pernah klop. Karena itu,mempelajari Bali, mengajarkan Bali, sebaliknya jugamempelajari Amerika dan mengajarkan Amerika, yang selamaini dimulai dari bentuknya saja, harus dihentikan. Takdirnyalah yang harus dipegang. Baru kalau itu dipahami,tanpa belajar pun Anda semua bisa menjadi penari Bali, dantahu tentang Bali." Claudia memberi isyarat pada Wayandengan menunjuk jam tangannya, tanda waktu sudah berlalu.Para mahasiswa berdiri siap-siap untuk pergi.Wayan kontan berkeringat. "Lho, saya belum sempat lagimulai, kok waktunya keburu habis? Ya sudah, maaf saja,sekian dulu," kata Wayan menyesal, sambil memandangClaudia seperti orang kalah perang. Para mahasiswa bertepuktangan. 
Jakarta, 17-5-02


Karya novel
Karya cerpen
  • Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom (1978)
  • Es (1980)
  • Gres (1982)
  • Klop
  • Bor
  • Protes (1994)
  • Darah (1995)
  • Yel (1995)
  • Blok (1994)
  • Zig Zag (1996)
  • Tidak (1999)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar